Newsflash

oleh Dwiyono Tandoer pada 01 Maret 2009 jam 6:53

1. Jabal Aby Qubaisy

Ditimur Baitullah, jika kita membelakangi Hajar Aswad yang mulia, terpandanglah kepada kita akan sebuah bukit yang sekarang sudah lama menjadi istana megah 'qosr as-shafa = istana as-shafa', istana Raja Kerajaan Saudi Arabia untuk memberikan penghormatan dalam menyambut tamu-tamu Negara dalam melaksanakan ibadah haji dan umroh, dan tempat Mu'tamar Internasional serta lainnya. Disitulah dulu terletak Jabal Aby Qubaisy atau al-Hijir atau as-Shafa yang ketinggiannya mencapai 420 m., yang mempunyai sejarah berkaitan dengan Baitullah dan Kota Makkah al-Mukarromah.

 

Riwayat menyatakan bahwa Jabal Aby Qubaisy adalah gunung yang pertama kali diciptakan oleh Allah diatas muka bumi ini. Demikianlah Imam as-Sayuthi meriwayatkan dalam 'al-Wasaa-il fi Musaamiratil Awaa-il' halaman 6, beliau menulis yang artinya "Dan pertama kali gunung yang diletakkan Allah diatas bumi adalah Jabal Aby Qubaisy, kemudian tersebar darinya segala gunung. Ibnu Assakir menyatakan bahwa dalam hadits ini ada rawi yang majhul dan bahwasanya ianya diterima dari pada perkataan 'Atho'",

 

Banyak peristiwa bersejarah berkenaan dengan Jabal Aby Qubaisy, gunung ini juga dikenal sebagai Jabal al-Amien (bukit kepercayaan/bukit penyimpan amanah), karena Allah telah mengamanahkan Hajar Aswad dalam simpanannya pada waktu terjadi taufan dan banjir zaman Nabi Nuh AS. Ketika Nabi Ibrahim AS. membina pertama Baitullah, maka Jabal Aby Qubaisy mengeluarkan kembali Hajar Aswad, lalu dibawa oleh Malaikat Jibril AS. dan diserahkan kepada Nabi Ibrahim AS.

 

Dalam sebagian kitab tafsir seperti Tafsir al-Jalalain dan Tafsir al-Qurthubi, memberi tafsiran akan firman Allah dalam surat al-Hajj ayat 27 yang berbunyi : "Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh". Menyatakan bahwa seruan Nabi Ibrahim ini, adalah ketika berada diatas puncak Jabal Aby Qubaisy. Imam al-Qurthubi meriwayatkan dalam tafsirnya dari Sayyidina Abbas RA dan Sayyidina Jabir RA yang menceritakan bahwa setelah Nabi Ibrahim menyelesaikan pembinaan Baitullah, maka Allah berfirman "Serulah ummat manusia seluruhnya untuk mengerjakan haji" Maka Nabi Ibrahim bertanya "Wahai Allah, akankah seruanku akan sampai kepada mereka?, Allah menjawab "Serulah dan atas Akulah yang akan menyampaikannya", lalu naiklah Nabi Ibrahim ke puncak Jabal Aby Qubaisy lalu berteriak dengan berkata "Wahai manusia...! Bahwasanya Allah telah memerintahkan kamu untuk menunaikan ibadah haji ke Baitullah ini untuk diganjari kamu dengan haji tersebut akan syurga dan diselamatkan kamu dari pada azab neraka, maka berhajilah kamu...!. Seruan Nabi Ibrahim ini telah dijawab oleh segala roh manusia yang berada di tulang-tulang sulbi lelaki dan rahim-rahim perempuan dengan ucapan talbiyah "Labbaik Allahumma Labbaik". Barang siapa menjawabnya pada hari tersebut maka dia akan berhaji sekali dan jika dua kali akan berhaji dua kali, dan dari sinilah bermulanya ucapan talbiyyah yang menjadi semboyan dan syi'ar para jamaah haji. Selain dari pada itu, diriwayatkan juga bahwa batu-batu yang digunakan untuk membina Baitullah yang mulia diambil dari atas Jabal Aby Qubaisy.

 

Terdapat juga riwayat yang menyatakan bahwa mu'jizat Rasulullah membelah bulan terjadi di Jabal Aby Qubaisy, dimana setelah diminta oleh kaum Musyrikin Makkah agar Rasulullah memperlihatkan satu mu'jizat, lalu Rasulullah dengan tunjukan jarinya yang mulia telah membelah bulan menjadi dua belahan, sehingga disaksikan oleh kaum musyrikin Makkah bahwa bulan benar-benar telah terbelah menjadi dua, satu belahan diatas jabal Aby Qubaisy, dan belahan keduanya pergi ke jabal Qu'ayqa'aan (jabal Qiiqa'anan atau Jabal Hindi).

 

Selain peristiwa tersebut, sebagian mufassir juga menceritakan bahwa tatkala turun firman Allah dalam surat As-Syu'araa' ayat 214 yang berbunyi : "Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat". Yang memerintahkan dakwah secara terang-terangan kepada kaum kerabat Rasulullah, maka Nabi membuat seruan tersebut diatas Jabal Aby Qubaisy ini. Adalah mengikuti riwayat sebagian mufassir, sebagian yang lain menyatakan bahwa Rasulullah melakukan seruan dakwah tersebut diatas bukit Shofa. Kedua riwayat ini tidaklah bertentangan karena bukit Shofa adalah terletak di ujung jabal Aby Qubaisy dan merupakan bagian dari jajaran jabal Aby Qubaisy. Sedangkan bukit Marwah di permulaan jabal Qiiqa'aan atau jabal Hindi.

 

Dahulu sebelum dibangunnya istana as-Shofa ini, banyak orang mendaki pada bukit Aby Qubaisy, bahkan dulu dia atas puncak bukit ada sebuah mesjid kecil yang dinamakan Mesjid Bilal, menurut cerita sebagian orang, mesjid itu dibangun atas tapak dimana Nabi Ibrahim membuat panggilan. Banyak jamaah haji menziarahi mesjid tersebut untuk melambaikan tangan, yakni berdoa agar keluarganya dan handai taulan diberi kekuasaan juga mampu melaksanakan haji di tahun-tahun berikutnya. Dengan dibangunnya istana diatasnya pada tahun 80-an maka sekarang sudah tidak nampak lagi rumah-rumah penduduk, tidak nampak pula mesjid Bilal dan rubath, yang nampak hanyalah diatas gunung yang bersejarah ini adalah istana yang megah dan mewah. Wallahu a'lam...

 

 

2. Daarul Arqam

 

Daarul Arqam ialah nama rumah yang dinisbatkan kepada al-Arqam ibn Abi Arqam, yaitu Sahabat Rasulullah SAW., Ia menjadi pusat gerakan dakwah Islam secara sembunyi-sembunyi pada permulaan kenabian, dimana orang-orang muslim yang baru masuk Islam berkumpul dan melaksanakn shalat di dalamnya secara sembunyi-sembunyi pula. Setelah jumlahnya mencapai 40 orang dengan masuknya Umar ibnu Khattab ke dalam Islam, maka dakwah Islam kemudian dilakukan secara terang-terangan.

 

Pada tahun 171 H/787 M., al-Khaizurah, bekas budak al-Mahdi al-Abbasi, membangun mesjid di tempat Daarul Arqam, yang jaraknya sekitar 36 m sebelah timur shafa, yaitu di luar tempat sa'i, serta menjadi perhatian para khalifah muslimin. Kemudian pada tahun 1375 H/1955 M., mesjid tersebut dihancurkan dalam rangka proyek perluasan Masjidil Haram. Dan untuk memperingatinya, maka pintu pertama di tempat sa'i disamping shafa dinamakan 'Pintu Daarul Arqam' (Bab Daarul arqam).

 

 

3. Daarul Nadwah

 

Di bangun oleh Qusai bin Kilab sekitar 200 tahun sebelum hijrah. Dinamakan demikian karena disanalah tempat berkumpul dan bermusyarahnya kaum Quraisy. Dirumah inilah mereka berkumpul dan membuat rencana untuk menghalangi gerakan dakwah Islam, yaitu ketika sebagian sahabat keluar menuju Madinah, dan kekhawatiran mereka bahwa Nabi pun akan melakukan hal yang sama. Oleh karena itu, mereka bersepakat untuk membunuh Nabi, tetapi atas kehendak Allah, Rasulullah dapat keluar rumah dan berhijrah ke Madinah demi mengembangkan agama dan risalah-Nya.

 

Umar bin Khattab, semasa menjabat sebagai khalifah kedua, pernah mengunjungi dan tinggal di Daarun Nadwah, demikian pula para khalifah sesudahnya. Sementara al-Mu'tadlid dari dinasi Abbasiyah memasukkannya kedalam bagian Masjidil Haram dalam perluasannya pada tahun 284 H/897 M, dengan luas 37 x 36 m =

1332 M persegi. Letak persisnya kira-kira di dekat tempat thawaf di sebelah utara, dan untuk memperingatinya pintu disana dinamakan dengan Pintu Daarun Nadwah (Bab Darun Nadwah).

 

 

4. Rumah Sitti Khatijah

 

Rumah ini terletak di belakang rumah Abu Sofyan, Inilah rumah dimana Nabi tinggal bersama isterinya Khatijah. Disanalah tempat kelahiran putri-putri Nabi, tempat wafatnya Khatijah serta tempat turunnya wahyu secara berulang-ulang. Rasulullah tinggal di sana hingga kaum Quraisy memblokade untuk membunuhnya. Maka turunlah wahyu dan mu'jizat dari Allah SWT., yaitu keberhasilan Nabi keluar rumah karena debu yang bertaburan menutupi kepala orang-orang quraisy sehingga tidak melihat kepergian Nabi. Sebagaimana disebutkan dalam surat Yaasin/36 : 9 yang berbunyi :

"Dan Kami adakan di hadapan mereka dinding dan dibelakang mereka dinding (pula), dan Kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat).

Sementara itu Sayyidina Ali lah orang yang tidur di ranjang Rasulullah menggantikan beliau yang berhijrah ke Medinah dengan mengatakan dalam al-Qur'an surat Al-Anfal/8 : 30 yang berbunyi :

"Dan ingatlah ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkanmu, atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu-daya dan Allah menggagalkan tipu-daya itu. Dan Allah sebaik-baiknya Pembalas tipu daya".

 

Kemudian setelah di beli oleh Mu'awiyyah, ia menjadikan sebagai Mesjid, dan memugarnya kembali dengan bangunan baru, serta dibuatkan pintu tembus ke rumah Aby Sofyan. Bangunan tersebut mengalami perbaikan terus-menerus, dan pada tahun 1379 H., bangunan tersebut diubah menjadi bangunan madrasah untuk putri atas sponsor dari Syekh Abbas bin Yusuf al-Qatthan. Hingga akhirnya di pugar kembali dalam rangka perluasan Masjidil Haram pada tahun 1385 H.

 

 

5. Maulud Nabi

 

Yang dimaksud dengan Maulud Nabi Muhammad SAW., ialah tempat kelahiran beliau, yaitu dirumah tempat Bapaknya Sayyidina Abdullah. Tempat ini terletak di Syi'ib Aby Thalib atau dikenal juga dengan nama Syi'ib Ali dan Syi'ib Bani Hasyim tinggal ditempat tersebut, setelah Rasulullah berhijrah, rumah tersebut telah diambil oleh sepupunya Aqil bin Aby Thalib, kemudian rumah tersebut dijual oleh anak-anaknya.

 

Tempat tersebut sekarang telah menjadi perpustakaan umum. Dahulu ditempat kelahiran Nabi SAW., tersebut dibangun Masjid al-Khaizurah, yaitu ibu dari khalifah Harun al-Rasyid pada zaman Dinasti Abbasiyah, kemudian dihancurkan dan dibangunlah perpustakaan umum oleh Syaikh Abbas bin Yusuf al-Qatthan pada tahun 1370 H/1950 M. dari hartanya sendiri. Letaknya disebelah timur halaman timur Masjidil Haram, dan tertulis disana "Maktabah Makkah al-Mukarromah" (Perpustakaan Makkah al Mukarromah).

 

 

6. Pasar Seng

 

Setiap yang hendak menunaikan ibadah haji ke tanah suci agaknya tidak akan melewatkan pesan singkat ini dari keluarganya atau kenalannya yang lebih dulu pergi haji "jangan lupa mampir ke pasar seng". Demikian terkenalnya nama ini dikalangan jamaah haji hingga rasanya menjadi kurang afdhol berada di Makkah tanpa singgah ke pasar seng.

 

Konon sebutan pasar seng muncul karena dulunya toko-toko yang ada beratapkan seng, malahan dijalur umum pasar seng itu 5 tahun yang lalu sudah dibongkar atap sengnya karena bikin panas dan sedikit pengab karena tertutup seng, tapi sekarang jarang toko-toko beratapkan seng melainkan lebih tertata rapi. Akan tetapi saat ini telah dibongkar semuanya untuk perluasan Masjidil Haram dan hotel-hotel berbintang.

 

Pasar seng sudah sejak lama menjadi tempat favorit untuk berbelanja bagi jamaah haji. dikarenakan barang-barangnya yang relatif murah dibanding tempat lain. Aneka ragam barang dijual dipasar ini dari cendera mata, pakaian, jam tangan, tasbih, parfum, minyak wangi, perlengkapan shalat seperti sajadah, kerudung, peci, buku, kaset hingga makanan dan buah khas Arab Saudi. Barang-barang tersebut kebanyakan buatan Cina, Banglades, India, Turky serta Mesir.

 

Mungkin sedikit yang bisa menjawab secara pasti kapan pasar seng ini bermula pertama kali. Namun konon, pasar telah ada sejak zaman Rasulullah. Awalnya sebagai pusat keramaian, karena tempatnya sangat strategis, disana kerap diadakan lomba, seperti lomba membaca puisi. Ibarat ada gula ada semut, disitu ada banyak orang, pedagangpun datang. Jadilah kemudian berangsur-angsur para pedagang menggelar berbagai jualan dan mencarai rejeki. Mereka bukan hanya dari wilayah Makkah tapi dari wilayah lainnya diluar kota.

 

Seiring bergulirnya waktu lokasi tersebut berubah menjadi sebuah pasar, pamornya terus meningkat hingga terkenal ke mancanegara, hal ini pada akhirnya menarik minat para pembeli dan pedagang dari negeri-negeri seberang seperti Syam, Irak, Mesir, Yaman untuk datang berdagang sekaligus menunaikan ibadah haji, Kian lama jumlah pedagang kian banyak terutama di sepanjang jalan setapak yang berada persis di pintu masuk Mesjid dikanan kiri jalan tersebut dibuka toko toko kelontong, toko makanan maupun toko pernak-pernik ibadah.

 

Diantara jamaah haji mancanegara, agaknya jamaah haji dari Indonesialah dan Melayulah yang paling ditunggu-tunggu oleh para pedagang, mungkin ini tidak bisa lepas dari kaitan sejarah pasar seng dengan jamaah asal tanah air yang sudah sejak lama ada. Sejak dulu jamaah haji Indonesi mengenalnya dengan pasar seng, meski sebenarnya penduduk Makkah sendiri tidak menyebutnya dengan nama itu. Penduduk setempat menyebut pasar tersebut dengan pasar Mudda'ah atau Suuqul-lail.

 

Sejak dulu pasar seng dikenal dengan harga-harga yang murah, bagi yang gigih menawar harga, mungkin akan dapat memperoleh barang berkualitas dengan harga miring, ada yang bilang pasar seng tidak ada bedanya dengan pasar tanah abang dan pasar-pasar lainnya. Jangan risau masalah komunikasi, rata-rata pedagang paham akan bahasa kita tapi bukan percakapan namun sebatas bahasa dagang, misalnya lancar memanggil jamaah Indonesia ketika lewat di depan tokonya : "Haji... haji Indonesia, mampir... barang murah murah.... bagus bagus..." begitu sapaan pedagang. Pun soal tawar menawar harga, pedagang juga mampu menyebut bilangan angka dalam bahasa Indonesia seperti satu real, dua real dst. Bagi mereka agaknya sebuah kerugian jika tidak menguasai kata-kata bahasa Indonesia. Bahkan agar nampak lebih akrab mereka kadang mengajak bicara tentang Indonesia. Namun kini tinggalah cerita dan kenangan karena pembongkaran tersebut sekarang sudah datar dengan tanah. "Selamat tinggal wahai Pasar Seng ku, semoga kelak kita ketemu dengan pasar yang lain!".

 

 

7. Mesjid Al-Rayyah

 

Mesjid al-Rayyah atau Mesjid Bendera, dikenal juga dengan nama Mesjid al-Judriyah., dikarenakan Mesjid itu terletak di tempat yang bernama al-Judriya di Gazza. Jamaah Haji dan Umroh dari Melayu mengataka bahwa Mesjid ini adalah mesjid Kucing atau Mesjid Abu Hurairah, hal ini tidak ada keterangan yang jelas dari beberapa kitab, hanya dari mulut ke mulut.

 

Adalah al-Imam al-Bukhori Rohimakumullah meriwayatkan bahwa Rasulullah telah mengatakan supaya benderanya ditancapkan di Hujun, dan Ibnu Hisyam berkata bahwa Rasulullah masuk ke Mekkah pada waktu 'Fathu Makkah' (pembukaan Kota Makkah) itu dari sebelah atas Makkah yaitu melalui Kada', dan sebuah kubah telah dibangun disitu sebagai tanda.

 

Kemudian Abdullah bin Abbas bin Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Abbas RA. telah membangun mesjid di tempat tersebut sebagai Mesjid Ar-Rayyah pada zaman sekarang. Jaraknya dari Mesjidil Haram kurang lebih 200 m. Mesjid itu telah diperbaharui bangunannya dan terletak disebelah atas Makkah yaitu Mudda'ah. Sejak di rehab baru mesjid itu dan dirubahnya qiblatnya miring kekanan sedikit sejajar arah qiblat maka sekarang berubahlah sebutan mesjid itu bernama "Mesjid Jami' Khodimul Haramain Syarifain".

 

 

8. Mesjid Syajaroh

 

Mesjid Syajaroh atau Mesjid Pohon, menurut al-Azraqi (wafat 244 H/858 M). Mesjid Syajaroh terletak berhadapan dengan Mesjid Jin. Al-Fakhri juga berpendapat serupa tetapi dia menambahkan bahwa disanalah terdapat pohon dimana Nabi memanggilnya lalu pohon tersebut mendatangi Nabi.

 

Ibnu Jauzi (wafat 597) mengatakan bahwa terdapat mesjid di tanah tinggi Mekkah yang disebut dengan Mesjid Syajaroh yang berhadapan dengan Mesjid Jin. Dikisahkan bahwa Nabi memanggilnya sebuah pohon yang tereletak di Mesjid (sekarang), lalu pohon itu pun tercabut dari bumi memenuhi panggilan Nabi sehingga berada di depannya. Kemudian Nabi menyuruhnya (kembali), maka pohon itupun kembali (ke tempat asalnya). Demikian pula menurut Ibnu Zhahirah.

 

Dari riwayat di atas kita dapat menyimpulkan bahwa mu'jizat Nabi tersebut terjadi di Hujun, di mana pohon tersebut terletak persis di bangunan Mesjid Syajaroh yang berhadapan dengan Mesjid Jin, sedangkan Nabi saat itu sedang berada di Mesjid Jin. Dalam riwayat yang dituturkan oleh al-Fakhri disebutkan bahwa Jin meminta bukti atau dalil kepada Nabi tentang kebenaran kenabiannya. Maka muncullah mu'jizat itu, dan merekapun masuk Islam serta membai'at Nabi. Mesjid Syajaroh itu diperbaharui kembali bersamaan dengan Mesjid Jin yaitu pada tahun 1421 H.

 

 

9. Mesjid al-Jin

 

Sebuah Mesjid yang letaknya di kampung Ma'lah, tak jauh dari pekuburan kota Makkah, Disebut Mesjid al-Jin karena disitulah dahulu para Jin bersumpah, mengakui bahwa Muhammad adalah Rasul Allah. Mesjid ini juga dikenal pula dengan Mesjid al-Bai'ah, karena di tempat itulah Jin berbai'ah (berjanji) kepada Rasulullah untuk beriman kepada al-qur'an dan ajaran yang dibawa oleh Rasulullah, yang sebelumnya mereka bertemu dengan Nabi di Nakhlah dalam perjalanan pulang dari Thaif pada tahun kesepuluh kenabiah.

 

Diriwayatkan bahwa ketika Rasulullah dengan beberapa sahabatnya melakukan shalat subuh, ketika di bacakan beberapa ayat al-qur'an, sekumpulan Jin yang sedang dalam perjalanan menuju Tihamah mendengar bacaan ayat-ayat al-qur'an ayat 1 dan 2 yang berbunyi :

"Katakanlah (hai Muhammad) : Telah diwahyukan kepadaku bahwasanya : sekumpulan Jin telah mendengarkan (al-Qur'an), lalu mereka berkata : Sesungguhnya kami telah mendengarkan al-Qur'an yang menakjubkan. (Yang) memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya. Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seorangpun dengan Tuhan kami".

 

Sekarang tempat ini diabadikan dengan mendirikan mesjid berukuran sedang, disitu yang dipergunakan untuk sholat lima waktu. Dinamakan Mesjid Jin bukanlah berarti bahwa di dalam mesjid itu hanya ada jin tetapi hanya lambang sejarah peristiwa di atas. Mesjid al-Jin ini disebut juga dengan Mesjid al-Haras, direnovasi kembali tahun 1421 H.

 

 

10. Pekuburan al-Ma'lah

 

Pemakaman Ma'lah atau lengkapnya ' Jannatul Ma'lah, terletak dikawasan Hujun, sekitar 600 m. sebelah utara mesjidil Haram. Merupakan pemakaman umum untuk penduduk Makkah, tetapi banyak juga dikubur disini jamaah haji yang meninggal di kota suci itu. Sejak sebelum Islam, Ma'lah sudah dijadikan makam keluarga besar Bani-Hasyim, yaitu nenek-moyang dari Rasulullah SAW.

 

Pada zaman Rasulullah, pekuburan Ma'lah ini dijadikan pekuburan umum bagi ummat Islam Makkah. Di pemakaman inilah antara lain terdapat kuburan Sitti Khatijah isteri Rasulullah, putra beliau Qasim bin Muhammad yang meninggal dunia masih kecil, disusul kemudian Abdul Muthollib kakek Nabi dan Abi Thalib pamannya.

 

Dalam sebuah hadis Rasulullah bersabda : "Allah akan membangkitkan dari bumi ini (pemakaman ma'lah) 70.000 orang yang masuk syurga tanpa hisab (perhitungan dosa). Setiap orang dari mereka dapat membawanya (membantu) sebanyak 70.000 orang. Wajah mereka cerah dan bersinar bagaikan bulan purnama". (HR. Abu Hafs).

 

Banyak pula para sahabat yang dikuburkan di Ma'lah antara lain Abdullah bin Umar, Abdullah bin Zubair, Yasir bin Ammar, Asma binti Abu Bakar, Abdullah bin Amr bin 'Ash dan lain-lain. Menurut Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki Rohimakumullah, setidaknya ada 45 sahabat Nabi yang gugur dan dimakamkan di pekuburan Ma'lah.

Saat ini pemakaman ma'lah telah diatur sedemikian rupa sehingga mayat dapat dikuburkan secara bergantian pada setiap satu lubang. Dengan demikian tidak perlu mencari lahan kuburan lainnya. Kuburan disini tidak memakai batu nisan dan tidak ada pula bangunan diatasnya. Jenazah yang dimakamkan di ma'lah, biasanya dishalatkan oleh jamaah Mesjidil Haram. Di musim haji aktivitas pengurus pemakaman siap siaga 24 jam siang malam. Pemakaman itu diterangi lampu terang menderang dengan banyak kuburan yang siap pakai.

 

Pekuburan Ma'lah tereltak sebelah timur Mesjidil Haram, menurut al-Fakihi tidak ada suatu penduduk pun di Makkah yang tahu menghadap kiblat, kecuali penghuni pemakaman Makkah. Mereka semua menghadap lurus ke kiblat.

 

 

(Bersambung... pada Extra Ziarah di Madinah dengan mengunjungi Medan Magnet (Mantiqul Baidho'), Percetakan al-Qur'an, Perkebunan kurma. Selamat menikmati....

 

"Jadilah seperti pohon kayu yang lebat buahnya, tumbuh ditepi jalan. Dilempar buahnya dengan batu, tetapi tetap dibalas dengan buah" (Abu Bakar As.Shiddiq RA.)

 

http://photos-a.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash1/hs884.ash1/179238_10150090433754268_817014267_5958038_6574538_a.jpg

MESJID ABU HURAIRAH RA.

Mesjid Abu Hurairah RA. atau orang melayu mengenalnya dengan Mesjid Kucing. Ust. Jumhuri Banjar mengatakan bahwa sesungguhnya Mesjid ini adalah Mesjid ar-Rayyah atau Mesjid Bendera, dikenal pula dengan Mesjid al-Judriyah dikarenakan Mesjid ini terletak ditempat bernama al-Judriyah Gazzah.

Adalah Imam al-Bukhori Rohimullah meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW. telah menyatakan supaya bendera ditancapkan di Hujun, dan Ibnu Hisyam berkata bahwa Rasulullah SAW. masuk Makkah pada waktu Fathu-Makkah (Pembukaaan Kota Makkah) itu dari sebelah atas Makkah yaitu melalui KADA" dan sebuah kubah telah di bangun disitu sebagai tanda.

Kemudian Abdullah ibnu Abbas bin Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Abbas RA. telah membangun mesjid ditempat tersebut sebagai Mesjid al-Rayyah pada zaman sekarang. Jaraknya dari Mesjid al-Haram 200m. Mesjid ini telah diperbaharui bangunannya dan terletak disebelah atas Makkah yaitu Mudda'ah.

Ditahun 1998 Mesjid ini diketahui salah qiblat, akhinya didalam mesjid lokasi qiblat dimiringkan kekanan sehingga lurus dengan ka'bah. Sejak diperbaharui baru tahun 2005 Mesjid ini berubah namanya menjadi Mesjid Khodimul Haramain Syarifain.

Nampak gambar Mesjid ini awal pembokaran di akhir desember 2010, saat ini sudah tidak nampak lagi Mesjid ini rata dengan tanah serata dengan pasar seng sebelahnya. Mudah2an Mesjid bersejarah ini dibangun lebih besar lagi. amien...

 
powered_by.png, 1 kB
Halaman Utama arrow Kantor Diva Mabruro

Warning: Parameter 3 to showItem() expected to be a reference, value given in /home/mabruro/public_html/includes/Cache/Lite/Function.php on line 100
© 2014 Mabruro Group